Di alam, senyawa organik diuraikan secara biologis
dengan berbagai macam bakteri. Sebagian kecil jenis bakteri dapat hidup hampir
disemua lingkungan, namun sisanya merupakan bakteri yang sangat sensitif dengan
kondisi lingkungan. Beberapa diantara mereka mampu mengkonsumsi senyawa organik
sebagai makanan, namun ada bakteri yang sangat selektif dalam hal makanan.
Bakteri dapat mengkonsumsi senyawa organik dalam
keadaan ada maupun tanpa adanya oksigen. Bakteri yang membutuhkan oksigen
disebut sebagai bakteri aerob, dan bakteri yang hanya hidup tanpa oksigen
disebut sebagai bakteri anaerob. Sebagian bakteri dapat hidup diantara keduanya
dan biasa disebut sebagai bakteri fakultatif.
Gambar Bakteri Anaerob
Proses anaerobik berlangsung dalam keadaan tidak ada
oksigen, keberadaan oksigen dapat menggangu kestabilan proses. Dalam keadaan
anaerobik, produk akhir dari proses yaitu gas methana (CH4) yang
mempunyai nilai energi pembakaran.
Proses anaerobik terbagi menjadi 2 fase proses
utama, yaitu proses liquefaksi dan proses gasifikasi. Proses liquefaksi dimulai
dengan hidrolisis atau pemecahan senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang
lebih sederhana terutama senyawa yang bersifat asam. Selain itu juga terjadi
reaksi pengubahan piruvat dan hidrogen menjadi asam organik terutama asam
lemak, alkohol dan karbondioksida (CO2). Proses yang selanjutnya
yaitu proses gasifikasi. Proses ini terjadi konversi dari asam organik, asam
lemak dan alkohol menjadi gas methana (CH4), karbondioksida (CO2)
dan hidrogen sulfida (H2S) (Gerardi, 2003). Reaksi biokimia yang
terjadi dalam reaktor seperti pada Tabel.
|
Substrat
|
Fase pertama
|
Fase kedua
|
|
Karbohidrat
|
CO2, H+, alkohol,
asam lemak
|
Senyawa asam rantai pendek, CO2,
CH4
|
|
Lemak
|
CO2, H+, alkohol,
Senyawa asam
|
CO2, CH4, asam
lemak
|
|
Protein
|
NH3, CO2, S2-,
asam amino, asam lemak
|
NH3, H2S, CH4,
asam amino
|
Salah satu hal utama yang perlu dipertimbangkan
dalam proses anaerobik yaitu tipe makanan yang tersedia bagi bakteri pembentuk
asam. Tipe makanan bakteri tersebut terdiri dari 2 bentuk, yaitu terlarut dan
tidak larut. Dalam bentuk terlarut dapat dicerna secara langsung, seperti
glukosa dalam air. Dalam bentuk tidak larut, seperti lemak ataupun senyawa
kompleks, sangat sulit untuk dicerna langsung oleh bakteri. Lemak maupun senyawa
kompleks harus dipecah terlebih dahulu sehingga menjadi dalam bentuk terlarut
sebelum dapat dicerna. Hal ini dapat dicapai dengan keberadaan enzim yang
diproduksi oleh bakteri. Enzim tersebut disekresikan ke dalam limbah dan
memecah senyawa-senyawa kompleks disekitarnya. Bakteri hanya mampu mencerna
makanan yang terlarut, yaitu senyawa yang telah dipecah menjadi senyawa
sederhana, dikarenakan makanan tersebut harus menembus dinding sel bakteri dan
membran yang sangat selektif. Dinding sel bakteri mengatur dan menyeleksi
senyawa yang masuk maupun keluar dari sel.
Tidak semua senyawa yang telah selesai dipecah oleh
enzim dapat melewati dinding sel maupun dicerna oleh bakteri, senyawa ini tidak
dapat didegradasi dan dikenal sebagai senyawa inert. Senyawa inert ini bukan
merupakan makanan untuk bakteri, sehingga tidak ikut dicerna selama proses
anaerobik.
Dalam keadaan proses anaerobik yang baik, kecepatan
degradasi asam rantai pendek (fase kedua) setara dengan kecepatan
pembentukannya (fase pertama). Apabila fase pertama berjalan secara independen,
proses tersebut merupakan proses yang berjalan tidak sempurna. Hal ini dapat
mengakibatkan turunnya pH secara terus menerus yang diakibatkan karena produksi
asam yang berlebihan. Fase kedua terjadi karena bakteri pembentuk methana
menggunakan asam volatil (asam rantai pendek) untuk memproduksi methana dan
karbondioksida. Kecepatan degradasi bakteri pembentuk methana sangat menentukan
stabilisasi proses dalam reaktor, selain itu bakteri ini lebih lambat tumbuh
dibandingkan dengan bakteri pembentuk asam. Hal ini yang membuat bakteri
pembentuk methana sangat sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Bakteri pembentuk methana bersifat anaerob obligat, sangat sensitif terhadap
udara (oksigen). Tidak seperti bakteri pembentuk methana, bakteri pembentuk
asam lebih kuat, cepat tumbuh dan tidak begitu sensitif dengan perubahan
lingkungan. Sehingga, proses anaerobik dijaga sedemikian mungkin dengan kondisi
optimal dari bakteri pembentuk methana. Pada kondisi tersebut tidak mengganggu
bakteri pembentuk asam.
Pustaka
Gerardi, MH
(2003). The microbiology of anaerobic digesters. USA : John Wiley & Sons,
Inc.

No comments:
Post a Comment